REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON — Ruas jalan Tegalsari-Cangkring, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, mengalami kerusakan parah selama lebih dari dua tahun terakhir. Kondisi itupun kerap mendapat sorotan dari para buyer (pembeli) produk rotan yang datang dari luar negeri.

Jalan raya Tegalsari-Cangkring merupakan ruas jalan utama yang menuju ke salah satu kawasan industri di Kabupaten Cirebon. Di kawasan tersebut, terdapat sekitar 20 industri barang jadi rotan dan kayu.

 

photo

Pekerja menjemur rotan mentah. – (ANTARA/Syifa Yulinnas)

 

 

Tak hanya memenuhi permintaan dari pasar lokal, puluhan industri tersebut juga berorientasi pada ekspor. Selama ini, produk-produk mereka diekspor ke mancanegara, seperti Eropa, Amerika, Australia maupun Asia dan Timur Tengah.

Salah seorang  pengusaha rotan, Muhammad Akbar, mengatakan, hampir setiap bulan, para buyer dari luar negeri selalu datang ke pabrik-pabrik yang ada di kawasan tersebut untuk membeli produk. Setiap kali datang, mereka kerap mengeluhkan kondisi jalan rusak Tegalsari–Cangkring.

“Jalan rusak ini jadi sorotan para buyer. Mereka suka bergumam, ‘waduh, kok jalannya rusak seperti ini?’,” ujar Akbar, Rabu (18/1/2023).

Berdasarkan pantauan Republika, ruas jalan Tegalsari-Cangkring, Kecamatan Plered itu mengalami kerusakan yang parah. Lubang-lubang dengan diameter dan kedalaman yang bervariasi, menganga hampir merata di ruas sepanjang kurang lebih lima kilometer.

Di saat hujan, lubang-lubang itu tertutup air yang keruh kecoklatan, mirip kubangan kerbau. Kondisi jalan juga menjadi licin sehingga membahayakan para pengguna jalan.

Akbar mengatakan, kondisi jalan tersebut merupakan ‘tampilan luar’ Kabupaten Cirebon. Saat melihat kondisi jalan raya di kawasan industri yang rusak parah, maka akan memunculkan penilaian negatif dari para tamu dari luar negeri.

“Jangan sampai Kabupaten Cirebon kehilangan buyer/investor karena jalanannya yang hancur. Investor kabur, rakyat menganggur,” ucap Akbar.

Akbar mengungkapkan, pemerintah daerah semestinya selaras dengan pemerintah pusat. Menurutnya, Presiden Jokowi sebelumnya telah menghimbau untuk meningkatkan devisa hasil ekspor agar perekonomian Indonesia semakin kuat.

Selain menimbulkan penilaian negatif dari para buyer mancanegara, lanjut Akbar, kondisi jalanan yang rusak juga membuat laju kendaraan pengangkut produk banyak yang terhambat. Padahal, kegiatan indsutri sangat berperan untuk menggerakkan perekonomian di Kabupaten Cirebon.

“Kami berharap, Pemkab Cirebon segera memperbaiki kondisi jalan yang rusak. Para pelaku industri di Kabupaten Cirebon membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah, terutama soal infrastruktur,” kata Akbar.

Sementara itu, keluhan mengenai kondisi jalan yang rusak juga disampaikan masyarakat. Apalagi, ruas jalan terebut merupakan jalan utama menuju kawasan industri.

“Jalan ini banyak dilalui oleh masyarakat karena jalan ini kan jalan utama menuju kawasan industry. Banyak pabrik di sini,” kata salah seorang pengguna jalan, Wawan.

Wawan mengaku, sering terlambat menuju ke tempat kerja karena harus memperlambat laju sepeda motornya saat melewati ruas jalan tersebut. Selain itu, banyak kendaraan sepeda motor yang jatuh karena lubang yang besar dan dalam.

“Apalagi kalau hujan kan lubang-lubang gak kelihatan tertutup air. Kasihan pengemudi kendaraan yang belum pernah lewat sini, mereka tidak tahu kalau ada lubang,” ucap dia.

Waawan berharap, pemerintah daerah segera memperbaiki kondisi jalan Tegalsari-Cangkring yang rusak tersebut. Dia mengatakan, kondisi jalan yang rusak itu sudah berlangsung hampir tiga tahun tanpa ada perbaikan. 

 





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *