YOGYAKARTA – Berawal dari cita-cita pribadi agar produk Indonesia bisa diminati kalangan menengah atas di pasar internasional, Achmad Kurnia mulai meniti usaha di bidang kerajinan tangan atau handicraft. Bermodal uang tabungan sekitar Rp100 juta dan pengalaman belasan tahun di bidang kerajinan tangan dan furnitur, dia pun mendirikan Siji Lifestyle pada Oktober 2007 silam.

Pria yang akrab disapa Achmad ini bercerita, sebelum mendirikan Siji Lifestyle, dia sudah punya pengalaman di bidang kerajinan. Achmad bekerja bertahun sebagai karyawan salah satu perusahaan kerajinan dan furnitur Eropa yang berkantor di Indonesia. 

Tak berselang lama, Achmad yang saat itu sebagai lulusan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) memilih melanjutkan pendidikan di Australia. Niatnya tegas, jelas, ingin mempelajari bisnis internasional. 

Beruntungnya, meski harus berpindah negara, Achmad tak perlu keluar dari perusahaan tersebut. Dia justru dipindahkan di perusahaan yang sama di cabang Australia. 

Selesai dari pendidikannya, dia pun kembali ke Tanah Air. Karier di bidang sama dia lanjutkan. Namun, kali ini dia pindah bekerja di perusahaan Amerika. 

Setelah lebih dari sepuluh tahun menggeluti status karyawan di perusahaan kerajinan tangan dan furniture, Achmad mulai merasa bosan. Nasib baik terus berpihak padanya. Rupanya tanpa perlu resign, Achmad dibolehkan oleh petinggi perusahaan asal Amerika tersebut merintis usaha pribadi. 

Menurut ceritanya, perusahaan Amerika tempat Achmad bekerja tak ingin melepaskan dia, karena belum menemukan sosok yang bisa menggantikan Achmad. Mau tak mau, perusahaan Amerika tersebut memberikan izin Achmad mendirikan Siji Lifestyle pada saat masih menjabat sebagai GM cabang perusahaan di Indonesia. 

Untuk memperdalam kemampuannya di bidang kerajinan tangan, Achmad juga memutuskan melanjutkan pendidikan diploma interior guna mempelajari konsep-konsep teori dasar desain.

Pada awal berdirinya, Siji Lifestyle, Achmad mengaku hanya memiliki 15 karyawan yang sengaja secara khusus direkrut hanya untuk mendesain berbagai produk kerajinan sesuai hasil riset pasar yang dilakukannya. Bahkan dia mengaku jika di awal usahanya, tidak memiliki pembeli (buyer) sama sekali. Beragam produk yang sudah dibuat sengaja diikutkan dalam beragam pameran. 

“Modal saya waktu itu Rp100 juta yang lebih untuk modal pameran. Saya riset pasar lebih dulu untuk tau ‘apa toh yang bisa saya jual tapi berkualitas dan unik?’ Maka lahirlah Siji Lifestyle ini yang artinya satu,” tutur Achmad kepada Validnews, Kamis (29/2).

Riset pasar yang Achmad lakukan diakui sebagai salah satu bentuk keutamaan Siji Lifestyle. Karena menurutnya, produk kerajinan yang dihasilkan oleh Siji Lifestyle, tidak hanya hadir secara musiman atau mengikuti tren. Dengan begitu, kerajinan dan hiasan yang dihasilkan tidak perlu berperang harga dengan kompetitor. Hal yang dikedepankan adalah ciri khas yang sesuai dengan target pasar. 

Perusahaan yang didirikan Achmad, tepatnya di Desa Trirenggo, Pandowoharjo, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta berhasil menciptakan lampu hias berlapis kain sutra yang dilukis, dan sarung bantal sofa sebagai produk perdananya. 

Produk-produk kerajinan tangan tersebut pun pertama kali dipamerkan pada 2008 di event INACRAFT. Tak bertepuk sebelah tangan, produk sarung bantal Siji Lifestyle berhasil mendapat nominasi produk dan desain terbaik. 

Sempat Dilarang Tekuni Interior
Jauh sebelum menjadi entrepreneur, bahkan berkarier di dunia kerajinan tangan, Achmad sudah yakin akan talenta yang dimiliki. Bahkan, seingatnya bakat dan minatnya terhadap dunia kerajinan tangan sudah ada sejak sebelum kuliah. 

Sayangnya, pada masa itu belum banyak jurusan desain interior. Orang tua Achmad pun tak mendukung keinginan anaknya untuk mengambil bidang studi yang diingini. Alasannya, kerajinan dan desain dianggap tidak mampu memberikan penghasilan yang mencukupi di masa depan. Ini menjadi alasannya memilih jurusan Hubungan Internasional. 

“Jadi dulu itu interior dianggap tidak bisa ngasih makan buat saya, kata orang tua saya. Jadi saya enggak dibolehkan kuliah jurusan interior. Ya udah enggak papa, karena passion saya yang lainnya juga ada di hubungan internasional karena saya suka jadi diplomat,” ucap Achmad. 

Namun pada akhirnya, tetap saja Achmad ‘berjodoh’ dengan bidang kerajinan tangan dan furnitur. Oleh karena itu, meskipun dia berhasil merampungkan studinya sebagai mahasiswa jurusan HI. Akan tetapi, dia kembali dan bekerja di bidang yang diminati. 

Munculnya ide dan cita-cita Achmad untuk menaikkan kelas produk kerajinan Indonesia berawal dari saat dirinya melakukan penelitian di akhir masa kuliahnya ke Kanada. Saat di sana, Achmad sering menemui produk Indonesia. Sayangnya, di benaknya, produk itu terlihat seperti barang murah.

“Waktu itu saya gregetan ngelihat produk Indonesia, kenapa sih kok kesannya di sana itu yang murah, untuk kalangan menengah ke bawah, dan tidak didesain dan kualitasnya kurang baik,” ucap dia. 

Dia kembali merasakan hal tersebut saat bekerja di perusahaan Eropa dan berkuliah di Australia. Dia merasa, produk Indonesia sangat sulit untuk diminati kalangan masyarakat dunia kelas middle high atau menengah ke atas. Dari sini, dia membulatkan tekad, untuk meningkatkan nilai jual produk kerajinan Indonesia.

Sesuai ambisinya, Achmad pun tidak menghiraukan jika produk kerajinan buatannya akan punya harga jual lebih  tinggi. Bagi dia jika sebuah produk bisa diminati di masyarakat global kelas middle high, target pasarnya pun akan tetap membelinya. Ini membuatnya lebih yakin dan  tidak khawatir dengan kompetitor produk yang menjual dengan harga lebih murah. 

Selain bakat di bidang kerajinan dan cita-cita untuk menaikkan kelas produk Indonesia, Achmad juga merasa jika banyak bahan baku alami dalam negeri yang ketersediaannya melimpah, namun belum optimal dimanfaatkan. Banyak sumber bahan kerajinan yang hanya menjadi limbah karena tak diolah. Misalnya saja, eceng gondok, karung goni, dan banyak lagi. Padahal, di luar sana, beragam hasil alam itu dipergunakan.

“Saya melihat kekayaan Indonesia itu banyak, tapi tidak dikelola dengan baik. Nah itu yang membuat banyak produk kita tidak diminati pasar global,” jelas Achmad. 

Menentukan Target Pasar
Sebelum membuat produk kerajinan, Achmad ingin melakukan riset lebih dalam. Dia mengaku banyak melakukan riset pasar. Mulai dari mencari berbagai tren global terhadap desain yang sedang diminati, seperti tren desain industrialis, minimalis, natural, dan sebagainya, hingga banyak berdiskusi dan mencari pendapat teman-temannya yang menggeluti bidang kerajinan. 

Setelah menemukan konsep besar, barulah Achmad membuat berbagai produk sebagai prototype yang dia promosikan melalui pameran-pameran internasional. 

Achmad mengaku, langkah awal dimana dia bisa memperoleh pembeli internasional adalah dengan mengikuti pameran ekspor. Hal ini yang dia lakukan saat mengikuti pameran INACRAFT pada 2008. 

Selain memperoleh nominasi desain dan produk terbaik pada ajang tersebut, dia juga memperoleh pembeli pertamanya saat pameran. Lampu hias dijual sekitar Rp8 juta untuk 50 buah. Lampu per buahnya dijual di kisaran Rp150-170 ribu itu pun diketahui dibeli untuk dijual kembali.

“Waktu itu mungkin secara nilai memang tidak terlalu besar, tapi saya senang karena barang saya direspons dengan baik. Buat saya itu sudah seneng banget,” tutur Achmad dengan sumringah. 

Achmad Kurnia mengaku tak menutup penjualan di pasar lokal. Namun setelah dia melakukan riset, ternyata selera masyarakat Indonesia dengan global berbeda. Menurutnya, selera lokal menyukai produk kerajinan yang musiman atau mengikuti tren di pasaran yang sedang diminati apa saja, misalnya seperti keranjang, tas rotan, dan sebagainya. 

Selain itu, desain dan tampilan yang semakin ramai justru yang makin diminati. Ini berbanding terbalik dengan pasar global yang cenderung menyukai desain sederhana. 

Perbedaan tersebut yang membuat produk Siji Lifestyle menjadi lebih laris di pasaran internasional. Padahal Achmad pun mengamini jika penjualan di pasar lokal justru lebih memudahkan baginya, karena risiko pengiriman yang minim dan waktu pengiriman yang singkat. 

Alasan berikutnya yang membuat produk Siji Lifestyle lebih laris di global adalah, meskipun Indonesia memiliki penduduk yang banyak, tetapi daya beli masyarakat masih rendah. Kata dia, saat ini masyarakat Indonesia masih mencari produk dengan harga yang murah meski kualitas masih kurang. 

“Produk kita sebenarnya laku di Indonesia, tapi rata-rata hanya di Jakarta, Bali, dan kota-kota besar. Itu juga hanya untuk proyek seperti hotel dan villa. Padahal saya tidak menargetkan hanya untuk dijual di luar negeri. Di lokal pun bisa, bahkan menurut saya lebih gampang dan cepat pengirimannya,” sebutnya.

Hingga saat ini diakui Achmad, penjualan Siji Lifestyle terbesar mencakup pasar Eropa dan Amerika yang masing-masing menguasai persentase 40%. Sedangkan, sisa 20% masuk di pasar Amerika Selatan dan Jepang. 

Produk yang dibuatnya hingga saat ini antara lain, hiasan dinding atau wall décor, hiasan di dalam rumah, dan alat makan atau dinner wear. Khusus untuk dinner wear, dia menggunakan resin yang telah lolos uji lab keamanan alat makan. 

Sementara untuk wall décor, sebagian komponennya menggunakan bahan alami seperti serat alam dari daun jagung dan bahan ramah lingkungan seperti honeycomb. Bahan yang ramah lingkungan tersebut yang menurut Achmad justru semakin diminati pembeli pasar global, karena dianggap sebagai produk yang adaptif terhadap isu kerusakan lingkungan. 

Sementara itu, bahan baku, Siji Lifestyle diklaim menggunakan bahan baku 100% lokal dari Indonesia. Semuanya diperoleh dari wilayah sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah. Hal ini dipilih Achmad untuk menghemat waktu dan biaya pengiriman, serta mengoptimalkan pemanfaatan produk lokal. 

Selain bahan baku yang ramah lingkungan, hal yang membedakan produk Siji Lifestyle dengan yang lainnya adalah teknik pembuatan menggunakan teknologi. Oleh karena itu, proses produksi lebih tepat ukuran dan hemat waktu. 

Hingga saat ini diketahui persentase pembeli produk Siji Lifestyle yakni 50% merupakan distributor yang menjual kembali produk-produknya, 30% merupakan pembeli dari retail, dan sisanya adalah pembeli seperti pengelola villa, mall, dan hotel. 

Sementara itu, berkat usaha kerajinan tangan ini, Achmad mampu mempekerjakan 100 orang karyawan. Kebanyakan mereka berasal dari sekitar 15 kilometer (km) dari  rumah produksi Siji Lifestyle. Sebanyak 40 orang bekerja di workshop Siji Lifestyle, dan sisa 60 orang karyawan bekerja dari masing-masing rumah mereka dengan dibekali peralatan oleh perusahaan. 

Pemasaran
Meski sejak pertama kali lebih mengandalkan pameran yang bertujuan ekspor, Siji Lifestyle tetap berpromosi di ranah digital. Setidaknya ini dilakukan dengan membuat profil perusahaan secara lengkap dan indah di website dan media sosial.  

Soal pameran, produk dari pabrik di Yogyakarta ini sudah tampil di Milan, Prancis, Frankfurt, Czechoslovakia, Newyork, Jepang. Sejumlah pameran tersebut juga Achmad ikuti berkat bantuan pemerintah seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 

Agar produk bisa terus diminati pasar global, Achmad pun berusaha menyesuaikan dengan musim yang sedang terjadi di Eropa dan Amerika. Misalnya, membuat kerajinan dengan nuansa musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. 

Layaknya pengusaha lainnya, tak melulu cerita sukses diperoleh dengan mulus. Achmad menceritakan hambatan dirasakan sejak menjalankan Siji Lifestyle sekitar 17 tahun. Salah satu yang berpengaruh adalah kondisi perang Rusia dan Ukraina yang mulai pada 24 Februari 2024 hingga saat ini. Hal ini memengaruhi proses pengiriman produk menuju negara asal pembeli. 

Berdasarkan cerita Achmad, dampak perang mulai terasa pada September 2023 lalu ketika penjualan Siji Lifestyle menurun 15%. Ternyata penurunan tersebut terus berlanjut sampai sekarang, dan total penurunan terhitung sekitar 30%. Penurunan penjualan ini dirasakan terjadi pada pengiriman produk ke seluruh negara tujuan ekspor, apalagi Amerika. 

Gangguan pengiriman makin terasa berat ketika terjadinya perang Amerika-Inggris yang melawan milisi Houthi di Laut Merah. Alhasil, jalur pengiriman pun terpaksa harus dialihkan dari Terusan Suez ke Benua Afrika, sehingga menambah mahalnya biaya pengiriman.  

“Siji Lifestyle baru terasa pengaruhnya di akhir tahun 2023 lalu, September. Ordernya nggak sebanyak dulu. Sekarang juga jalurnya dialihkan dari terusan Suez ke Benua Afrika, dibuat jadi muter dan makin lama dan mahal,” kata Achmad.

Omzet yang semula di kisaran Rp1 miliar per bulan, saat ini turun di kisaran Rp600-Rp850 juta per bulan. Achmad mengungkapkan, selain terjadinya penurunan pesanan, juga terjadi penurunan penawaran yang diajukan pembeli terhadap produk yang ditawarkan karena mahalnya biaya kirim. 

Selama ini, sistem tanggung jawab produk bersifat FOB (Freight On Board). Dengan sistem ini, Achmad selaku penjual hanya bertanggung jawab terhadap produk saat dikirim hingga di kapal. Sedangkan saat barang ada di kapal hingga sampai ke pembeli, merupakan tanggung jawab pembeli itu sendiri. 

Oleh karena itu, sejak adanya perang di beberapa negara dunia, banyak pembeli terutama Eropa dan Amerika yang menawar agar harga produk Siji Lifestyle menjadi lebih murah, karena harga pengiriman yang menjadi lebih mahal. 

“Makanya mereka menawar dan minta ‘apakah bisa ada diskon sedikit?” tutur Achmad. 

Selanjutnya, dalam menghadapi gangguan penjualan tersebut, Achmad pun mengaku mulai mencari pasar alternatif dengan daya beli yang cukup tinggi yaitu Timur Tengah, Dubai, Jepang, Amerika Selatan, Uruguay. Selain itu juga melakukan efisiensi produksi sehingga biaya produksi jadi lebih murah. 

Achmad pun menyampaikan, jika ingin berhasil melakukan ekspor dan memperoleh buyer global, menyarankan agar pelaku usaha bisa konsisten menjaga kualitas produk. Dia juga menyatakan agar pelaku usaha berani melakukan inovasi, sehingga tidak terlalu lama di zona nyaman.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *