Jakarta (ANTARA) – PT PLN (Persero) menilai bahwa kehadiran kebijakan hilirisasi serta munculnya berbagai teknologi baru membantu akselerasi transisi energi dari yang sebelumnya berbasis fosil menjadi energi baru terbarukan.

“Berbagai macam perubahan baru yang muncul sepanjang 2021-2023, seperti kebijakan hilirisasi cukup boost demand (meningkatkan permintaan),” ujar Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PT PLN (Persero) Evy Haryadi dalam acara bertajuk, “Powering The Future: Sustainable Energy Transformation For Indonesia 2024” di Jakarta, Rabu.

Evy mencontohkan terkait peningkatan target pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), yang semula ditargetkan terpasang 4,7 gigawatt (GW) pada 2030, menjadi 7,6 GW pada 2033.

Lebih lanjut, terkait pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), juga terdapat peningkatan dari yang semula ditargetkan 600 MW menjadi 5 GW.

“Jadi ini (PLTB) cukup menantang. Dan di wind (bayu/angin) ini punya potensi yang sangat besar karena saat ini tidak disyaratkan (memenuhi) TKDN (tingkat komponen dalam negeri),” ujar Evy.

Ketiadaan syarat tersebut, menurut Evy, dapat menjadi salah satu pertimbangan para investor untuk menanamkan modalnya.

Lebih lanjut, terkait dengan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), juga terdapat peningkatan target dari yang semula ditargetkan terpasang 10,4 GW pada 2030, menjadi 13,7 GW.

“Kalau panas bumi (pembangkit listrik tenaga panas bumi/PLTP) 3,4 GW menjadi 5,6 GW,” ujar Evy.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan bahwa pihaknya menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik mencapai 80 gigawatt (GW) pada 2040, dengan komposisi 60 GW berbasis energi baru terbarukan dan 20 GW berbasis gas.

Ia mengatakan bahwa dalam Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022, pemerintah memandatkan PLN untuk mengutamakan pengembangan energi baru terbarukan dalam menyusun Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

“Perpres tentang EBT 2 tahun lalu sudah melarang untuk masuk RUPTL, yaitu perancangan dari pembangkit listrik berbasis pada batu bara. Jadi, baseload-nya hanya tiga, gas, hidro, dan ada juga geothermal,” kata Darmawan.

Baca juga: Menlu RI-Australia bahas kerja sama transisi energi
Baca juga: PLN bidik penambahan pembangkit listrik capai 80 GW pada 2040
Baca juga: PLN jadi tulang punggung Indonesia capai target emisi nol bersih



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *