SULAWESI TENGAH – Transmigran asal Bali di daerah transmigrasi Sulawesi Tengah, selalu mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Atas keberhasilannya itu, lahan miliknya banyak dilirik untuk pengembangan wisata agro hortikultura seperti sejumlah perkebunan durian yang berhasil di Parigi Moutong.

Sampai saat ini masih banyak tercatat petani/pekebun yang sukses dan memiliki hasil kebun berlimpah. Bahkan ada salah satu transmigran asal Tabanan, Bali, Made Sukarya Yasa, selain sebagai petani/pekebun juga masih aktif sebagai pegawai negeri sipil (PNS) pada salah satu Puskesmas, di Desa Balinggi, Kecamatan Balinggi Jati, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Palu.

Pria kelahiran 1979 ini diajak transmigrasi saat masih berumur 4 bulan di tahun 1980-an. Sebagai petani yang sukses yang tinggal di Desa Beraban, Kecamatan Balinggi Jati, Kabupaten Parigi Moutong mampu membagi waktu sebagai PNS dan sebagai petani. Made Sukarya Yasa mengolah lahan pertanian sawah seluas 50 are dan kebun durian seluas 1 hektar.

Pekerjaan utama sebagai pelayan masyarakat di Puskesmas tidak pernanh terganggu. Sebab, pekerjaan sebagai petani dilakoninya saat pulang dinas, disamping memang sudah ada tenaga yang dipercaya merawat kebun durennya.

Menurutnya pohon durian yang sedang berbuah perlu perawatan dan buah yang lebat dan berada di ranting perlu diikat karena beban buah yang berat. Untuk mengikat buah durian membutuhkan waktu setengah hari untuk satu pohon.

“Kalau saya biasanya sore-sore, setelah pulang kantor baru ke kebun atau ke sawah,”ujar Made Sukarya Yasa saat ditemui di Desa Beraban, Parigi Moutong, Sulawesi Palu.

Dalam penuturannya saat ditemui Warta Bali, kebun durian miliknya tidak jauh dari tempat tinggalnya dan dari luas lahan 1 hektar tersebut berisi 80 pohon durian moutong yang selalu berbuah sepanjang tahun dan tidak ada istilah berbuah musiman.

Jenis durian moutong yang berhasil dikembangkan di Sulawesi Tengah ini merupakan durian yang berkualitas eksport. Sehingga hasil panen selama ini lebih banyak dikirim keluar negeri guna memenuhi kebutuhan eksport seperti Tionghoa, China maupun Singapura. Sementara pemasaran dalam negeri lebih banyak Jakarta.

Made Sukarya Yasa menjelaskan, pohon durian moutong miliknya selalu bisa berbuah secara bergiliran, semua itu tergantung pemupukan dan perawatan yang dilakukan. Biasanya dari 80 pohon, saat panen bisa menghasilkan 15 sampai 18 ton. Sayangnya, pada panen 2023 lalu, sebulan sebelum panen buah durian banyak yang jatuh hingga mencapai 5 ton.

“Tahun 2023 lalu, saya mengalami itu, sebulan sebelum mau panen, buah durian jatuh sendiri dari pohon jumlahnya sampai 5 ton, itu yang sempat membuat pemilik kebun durian disini stress,”ujarnya.

Penyebabnya pasti ada penyakit atau hama akan tetapi sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Meski pernah dilakukan penelitian dari Kalimantan akan tetapi sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Penyakit tersebut masih ada bahkan pohon durian yabg baru belajar berbuah juga terserang penyakit. Anehnya buah surian yang sudah kena penyakit, ulat tidak mau masuk pada buah durian.

Sementara berbicara harga durian moutong memang paling mahal. Pada panen 2023 yang lalu harganya mencapai Rp 25.000 per kg. Kalau dalam hitungan 13 ton yang tersisa di pohon, bisa menghasilkan Rp 325 juta sekali panen.

“Untuk panen 2023 lalu, sebulan sebelum panen banyak buah durian jatuh sendiri dari pohon karena penyakit sehingga hasil panen kita berkurang. Kalau tidak ada penyakit, setiap panen duren petani bisa beli mobil baru,”katanya.

Selain pohon duren yang ada, Made Sukarya Yasa juga melakukan tumpang sari dengan menanam pohon coklat. Sejumlah pohon coklat miliknya juga sudah mulai berbuah. Saat ini biji coklat harganya sangat tinggi hingga Rp 150 ribu per kg.

“Harga coklat terakhir sudah mencapai 150 ribu per kg,”katanya.

Pihaknya berharap, pohon yang ditanam diantara pohon durian miliknya dalam waktu dekat ini sudah berbuah.

“Mudah-mudahan harga coklat masih tetap tinggi,”pungkasnya berharap. (arn/jon)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *