Jakarta (ANTARA) – Saat itu tahun 2016. Wulan, yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA), menyaksikan babak final bulu tangkis Olimpiade Rio dari layar kaca bersama keluarga kecilnya.

Berbalut pernak-pernik yang masih menghiasi wajah, usai melakoni lomba 17-an di kompleks perumahannya, Wulan bersama ayah, ibu, dan kakak perempuannya menyaksikan aksi ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir, yang tengah menghadapi wakil Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying.

Masih teringat di memorinya, bagaimana kakaknya terkadang menepok jidatnya sendiri ketika shuttlecock jatuh keluar ke sisi lapangan lawan. Teringat pula bagaimana ayahnya ikut bertepuk tangan sembari menyemangati Owi/Butet dari kursi di ruang keluarganya yang mungil, seakan pasangan Indonesia yang berada jauh di Brasil bisa mendengarkan teriakan mereka dari rumah.

Di tengah sorak-sorai “Habisin, habisin,” yang digemuruhkan penonton di Rio, shuttlecock dari Tontowi tidak mampu dikembalikan oleh Goh dan tersangkut di net, membawa kemenangan bagi pasangan Indonesia. Wulan, ayah, ibu, dan kakaknya langsung beranjak dari tempat duduk mereka masing-masing, ikut berselebrasi bersama Owi/Butet yang menangis haru di lapangan, dengan medali emas yang akhirnya dikalungkan di leher mereka, tepat di Hari Ulang Tahun ke-71 Republik Indonesia.

Itu adalah hari yang besar. Kemenangan Owi/Butet saat itu seakan menjadi kemenangan juga bagi masyarakat Indonesia. Terlebih, bukan rahasia lagi kalau bulu tangkis sendiri merupakan salah satu olahraga yang paling digemari di Tanah Air.

Survei Nielsen Sports pada 2020 menunjukkan sebanyak 71 persen masyarakat Indonesia menyukai olahraga tepok bulu itu. Jika data jumlah penduduk Indonesia 2020 adalah sebanyak 273,5 juta jiwa, maka terdapat setidaknya 194,2 juta dari masyarakat Indonesia merupakan penggemar dari olahraga tersebut.

Di sisi lain, ada Reyhan, yang memiliki cerita yang kurang lebih sama dengan Wulan. Ia sudah menyukai olahraga, utamanya bulu tangkis, sejak ia kecil, ketika keluarganya mengenalkan sosok Hendra Setiawan dari beberapa tayangan di televisi. Hingga akhirnya, dua tahun kemudian, Reyhan berkesempatan untuk menonton aksi para pebulu tangkis nasional secara langsung, saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018.

Keputusannya untuk nekat berkelana dari Surabaya ke Jakarta pun menjadi pengalaman yang tak bisa ia lupakan. Reyhan adalah satu dari sekian ribu pasang mata yang menonton langsung aksi Jonatan Christie di partai final Asian Games 2018 Jakarta. Jonatan saat itu memenangi laga kontra wakil Taiwan Chou Tien Chen dalam rubber game yang menegangkan, dengan skor akhir 21-18, 20-22, 21-15.

Rasa tegang itu berubah menjadi kelegaan ketika Jonatan memastikan dirinya membawa pulang medali emas. Masih terpatri jelas di ingatannya ketika semua orang yang memadati Istora Senayan berdiri dari kursi mereka masing-masing sembari mengepalkan tangan mereka di atas kepala.

Bagi Reyhan, itu adalah sesuatu yang terasa magis, perasaan yang tidak bisa dideskripsikan dengan jelas melalui kata-kata. Apalagi saat seremoni pengalungan medali, lagu “Indonesia Raya” dengan megah beralun, seiring dengan bendera Merah-Putih yang dengan gagah berada di puncak tertinggi.

Pikirannya lalu melayang ke orang tuanya yang di saat yang sama, mungkin juga ikut berdiri dari kursi mereka, turut berteriak bersama tunggal putra tersebut merayakan kemenangan, merayakan sportivitas, merayakan Indonesia.

Mencintai olahraga pun bukan hal yang sulit. Menurut psikolog Zahrah Nabila Putri, penggemar atau suporter atlet dan tim olahraga memiliki rasa akan kesamaan identitas, hingga bisa memberikan asupan energi positif kepada diri sendiri.

Adanya paparan media yang masif, akan membuat penggemar cenderung untuk mencari kemiripan dengan sosok (idola seperti atlet) itu. Merasa ada kemiripan, yang tanpa disadari juga menjadi sosok ‘teman’ atas diri sendiri.

Sebagai contoh, jika mengidolakan seorang atlet atau tim olahraga, itu juga memberikan asupan tersendiri, dari cara kita melihat semangat mereka saat bertanding, melihat proses latihan mereka hingga sampai saat ini.

Apa yang Zahrah katakan seakan menegaskan kutipan dari penulis Mark Twain, yang mengatakan bahwa orang-orang hebat memiliki kemampuan untuk membuat kita merasakan hal yang sama, bahwa kita pun bisa melakukan hal hebat sepertinya.

Kesamaan identitas yang dimiliki oleh atlet dan suporter agaknya menjadi faktor utama dari semangat mereka yang tak pernah padam. Namun, mungkin juga bisa dibilang karena keduanya memiliki cinta yang tak bertepuk sebelah tangan.

Dukungan dari para penonton di tribun maupun dari layar kaca seakan berjalan selaras dengan upaya para atlet di lapangan untuk memberikan yang terbaik bagi dirinya, bagi bangsa dan negara.

“Semangatnya bertambah berkali-kali lipat karena dukungan penonton. Sebagai atlet Indonesia kami bangga bisa membawa nama Indonesia dan bermain di Indonesia, bersama dengan dukungan penonton,” kata Jonatan Christie, usai melakoni turnamen Indonesia Open 2023, beberapa waktu lalu.

Ya, tapi, kita semua agaknya bisa sepakat bahwa mau berada di bangku penonton di stadion, atau hanya bisa mendukung dari balik layar televisi maupun gawai, gelora itu tidak pernah padam. Tak hanya bulu tangkis, para suporter untuk cabang olahraga lainnya pun melakukan hal yang sama untuk para atlet, sosok yang mereka anggap sebagai pahlawan yang berjuang di berbagai kejuaraan bergengsi di dunia.

Olahraga, di atas kertas, memang secara umum adalah tentang menang atau kalah. Tapi, olahraga, bagi banyak orang, ternyata adalah sumber kebahagiaan, kebanggaan bangsa, dan wadah sempurna untuk merayakan impian, serta menyatukan banyak orang dari rasa cinta yang sama, demi Indonesia.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *