Program ini bertujuan untuk memberikan motivasi kepada generasi muda di wilayah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal) agar mereka dapat mengejar pendidikan tinggi, meskipun dihadapkan pada berbagai kendala seperti faktor ekonomi, perbedaan budaya, dan keterbatasan akses informasi. Program ini dimaksudkan sebagai upaya menjembatani kesenjangan pendidikan antara wilayah perkotaan dan daerah-daerah terpencil Nusantara.

Ketua Pelaksana Aku Masuk ITB (AMI), Haura Shofa Yasmin (KI’22), mengungkapkan, “AMI tahun ini memiliki mimpi yang luar biasa, terutama dalam bidang diseminasi ini. Kami telah membagi program ini menjadi dua bagian, yakni umum dan khusus. Untuk diseminasi umum, kami fokus pada wilayah-wilayah terdekat, di Kabupaten Bandung, sementara untuk yang khusus, kami mengarahkan upaya kami ke wilayah 3T,” tuturnya.

   

Dua mahasiswa ITB, Deftendy Virgiatman (TF’21) dan Zahran Al Ghifari (TF’22), menjadi perwakilan ITB untuk terjun langsung ke Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Salah satu kendala yang dirasakan langsung yakni akses yang cukup menyulitkan siswa melakukan mobilisasi, keterbatasan akses informasi, dan kendala ekonomi. Oleh karena itu, dengan adanya program Diseminasi Khusus ini, KM ITB berupaya memberikan edukasi dan motivasi siswa SMA terutama di wilayah 3T guna mengatasi kendala-kendala tersebut.

Meskipun perjalanan ke Pulau Siberut tidaklah mudah, namun tekad dan semangat tim diseminasi khusus dalam menawarkan tidak hanya edukasi dan motivasi untuk pendidikan tinggi, tetapi juga melakukan pengabdian masyarakat yang sesuai dengan kondisi setempat, berhasil membawa mereka menjangkau para pelajar di Pulau Siberut.

Tim diseminasi khusus tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga kisah inspiratif yang memicu antusiasme siswa untuk aktif bertanya. Sekolah yang dikunjungi antara lain SMAN 1 Siberut Utara, SMAN 1 Siberut Selatan, SMA Lentera Mentawai, dan SMKN 2 Kepulauan Mentawai.


   

Ketua bidang diseminasi, Deftendy Virgiatman (TF’21), menjelaskan, “Selama 17 hari kemarin, target utama kami adalah pendidikan. Namun, kami juga melakukan bentuk pengabdian masyarakat (lain), yakni sehari menjadi nelayan, mengikuti panobat (pemasangan atap uma), mempelajari budaya Mentawai, dan membantu perajin membuat cinderamata Mentawai,” ujarnya.

Tantangan yang dihadapi termasuk akses mobilisasi antarsekolah yang terbatas. Secara geografis, Kabupaten Kepulauan Mentawai, khususnya Pulau Siberut, masih dianggap sebagai daerah 3T, sehingga mobilisasi dilakukan dengan menyeberangi sungai atau laut, dengan jadwal kapal laut yang terbatas.

Meski dihadapkan pada berbagai hambatan, tim Diseminasi Khusus Aku Masuk ITB (AMI) 2024 tetap bertekad membawa manfaat bagi anak-anak di pelosok Nusantara dan membuka celah untuk mereka merasakan pentingnya pendidikan bagi masa depan.

Reporter: Iko Sutrisko Prakasa Lay (Matematika, 2021)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *